BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kuliah
Kerja Nyata ( KKN ) merupakan usaha kegiatan pengabdian pada masyarakat yang
dilaksanakan oleh mahasiswa, mengingat permasalahan pembangunan sangat
kompleks, maka pelaksanaannya perlu ditangani secara pragmatis dan interdisipliner
untuk itu diperlukan adanya pendidikan yang dapat melatih mahasiswa sebagai
calon sarjana agar dapat bekerja secara interdisipliner dan dapat menanggulangi
permasalahan di lapangan secara pragmatis.
Didalam
pelaksanaanya, KKN terdapat 3 ( tiga ) kegiatan yang dilakukan mahasiswa yaitu;
Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada masyarakat. Dalam kegiatan
pendidikan, mahasiswa diperkenalkan secara langsung pada masyarakat dan segala
permasalahannya. Dalam kegiatan mahasiswa penelitian mahasiswa diajak untuk
menelaah dan merumuskan permasalahan-permasalahan yang kompleks, menelaah
potensi-potensi, dan kelemahan-kelemahan dalam masyarakat serta merumuskannya.
Dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat, mahasiswa mengamalkan ilmu
pengetahuan teknologi, dan seni untuk menyelesaikan masalah dan
menanggulanginya secara pragmatis.
Pada Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) angkatan
XXII Tahun 2010/2011 terbagi atas 70% di bidang pendidikan dan 30% bidang
sosial masyarakat. Permasalahan yang ada di dunia pendidikan dan masyarakat
yang ditemui pada waktu pelaksanaan observasi yang disusun menjadi program
kerja dan akan dilaksanakan selama kegiatan KKN berlangsung pada suatu posko.
Setiap posko KKN memiliki rencana dan schedule termasuk juga posko 25. Diantara
program-program yang ada salah satunya adalah dibidang seni tari yang secara
interen dilaksanakan penulis sebagai salah seorang yang bertugas melaksanakan
rencana kerja tersebut. Setelah penulis melakukan observasi pada Bidang Seni tari,
Penulis menemukan bahwa belum terbinanya kegiatan seni tari didesa Giriyoso 1
Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musi Rawas, maka ditemukan satu permasalahan yang
dianggap perlu untuk diberikan solusinya yaitu apa yang menyebabkan seni tari
tidak dikembangkan di desa Giriyoso? Hal ini yang melatarbelakangi penulis
untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang pentingnya meningkatkan
keterampilan dan melestarikan seni tari.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka
penulis melakukan penelitian dengan
judul : "Upaya Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Bermain Pada
Anak-Anak Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan
diatas, maka penulis merumuskan masalah yang perlu diselesaikan,yaitu:
1. Mengapa
Seni Tari tidak dikembangkan di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka ?
2. Bagaimana
Upaya mengembangkan Seni Tari Melalui
Media Bermain pada Anak-Anak Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka?
1.3
Tujuan
Tujuan
dari penulisan laporan ini, antara lain;
a.
Untuk mengetahui mengapa seni Tari tidak
dikembangkan di desa Giriyoso 1.
b.
Untuk mengembangkan seni tari didesa
Giriyoso 1 kecamatan Jayaloka.
1.4
Manfaat
a. Anak-
Anak dapat berpatisipasi dan lebih aktif dalam kegiatan seni tari melalui media
bermain.
b. Guru-Guru
tari dapat mengaplikasikan teknik pengajaran seni tari melalui media bermain.
c. Penulis
mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman mengenai Upaya Mengembangkan Seni
Tari Melalui Media Bermain.
BAB
II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Seni Tari Sebagai Media pengembangan Kreatifitas
Seni tari sebagai
salah satu seni pertunjukan merupakan bentuk karya seni dengan bentuk media
ungkap berupa gerak dan hasil dari ide atau gagasan, nilai-nilai, rasa irama,
pesan dan berbagai aspek lainnya yang duwujudkan melalui pola-pola gerak
tersusun.
Seni tari tergolong
seni yang hilang dalam waktu, yaitu pertunjukan tari selesai disajikan maka
selesai pula semua aktivitas dan yang tersisa adalah kesan dan pengalaman bagi
pelaku dan penonton.
Era global yang
didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan individu-individu
yang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, kreativitas perlu ditumbuh
kembangkan.Secara umum sudah banyak dipahami bahwa dalam rangka mengembangkan
kreativitas, peran pendidik sangatlah penting. Berbagai upaya dilakukan untuk
meningkatkan kreativitas, baik dirumah maupun disekolah.
2.2
Upaya mengembangkan Seni Tari Melalui Media Bermain pada
Anak-Anak
a. Media
Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan kesenangan tanpa memperhitungkan hasil akhirnya.Bermain
dilaksanakan secara sukarela tanpa adanya paksaan.
Jadi, melalui bermain dapat diperoleh
kesenangan.Menurut Sutton dan Smith,bermain dapat digolongkan menjadi empat
(empat) yakni meniru, menjelajah (eksplorasi), menguji atau eksperimen, dan
membangun. Bermain dengan seni musik adalah kegiatan bermain yang dilakukan
dengan bunyi atau lagu-lagu daerah seperti lagu “Cublak-cublak Suweng, Lagu
Lancang Kuning, Lagu Kicir-Kicir, Mbok Jamu, Ampar-Ampar Pisang, dan
Ayang-Ayang Gung merupakan lagu-lagu yang sering digunakan sebagai media
bermain yang diiringi dengan gerakan-gerakan tarian.
b.
Konsep Dasar Seni Tari
Melalui Media Bermain
Seni akan mampu memberikan
bantuannya dalam rangka pembentukan kepribadian anak didik. Pengalaman berolah
seni dalam bentuk latihan, mencipta, berkreasi melalui
latihan-latihan akan melibatkan kognitif, afektif serta psikomotorik. Ketiga
aspek tersebut secara totalitas juga melibatkan semua aspek jiwa seperti
kecerdasan, kemauan, kebiasaan berdisiplin dan lain-lainnya. Melalui kegiatan
seni, secara tidak langsung akan membentuk diri anak menjadi insan yang
seimbang jasmani rohaninya, Pendidikan seni dapat pula sebagai fasilitas anak
untuk bereksperimen melakukan kegiatan kreatif dalam bentuk ekspresi visual,
ekspresi kinetik atau ekspresi lainnya yang sesuai dengan medium pokoknya.
Kegiatan latihan menari akan dapat
merangsang berbagai aktifitas tubuh, baik secara fisik, maupun non fisik.
Secara fisik jelas bahwa aktifitas latihan tari yang dilakukan oleh setiap anak
akan membentuk elastisitas tubuh menjadi semakin baik, sehingga semua
gerak-gerik tubuh menjadi terbiasa. Kegiatan latihan fisik juga akan memacu
sebuah refresing tubuh Dengan latihan menari, suasana segar, riang,
bercengkrama akan didapatkan dan selanjutnya kejenuhan rutintas tubuh
akan hilang. Secara sederhana, tarian anak-anak adalah tarian yang sesuai
dengan kodrati anak-anak, kebanyakan tarian anak-anak dari isi dan bentuknya
adalah sebagai berikut
1. Permainan
Pada dasarnya, anak-anak seusia
sekolah dasar masih sangat menyukai bermain atau permainan apapun bentuknya.
Kebutuhan akan bermain yang begitu kuat ini merupakan modal dasar yang
dominan, apabila dapat digunakan sebagai media pembentukkan dalam proses
belajar. Secara tidak sadar, dalam melakukan berbagai aktivitas permainan sebenarnya
si anak akan menyerap berbagai penguatan untuk membentuk dirinya. Membentuk
penguatan solidaritas, penguatan kreatif, kemandirian, keberanian, tantangan,
bahkan mengembangkan daya cipta, dari permainan yang ada anak juga dapat
berkreativitas untuk menciptakan permainan yang baru yang dianggap lebih
menarik.
Secara psikologi, anak yang tebal
pengalamannya dalam berbagai permainan, kejiwaanya akan lebih mudah dibentuk
atau terbentuk menuju pada jati dirinya. Karena permainan merupakan bagian yang
paling digemari, maka sesuatu pembelajaran yang dimasukkan melalui pola-pola
permainan juga mudah
2.
Alam dan Binatang.
Tema-tema alam dan binatang biasanya
sangat dekat dan disukai anak-anak. Dengan pilihan tema-tema tersebut anak akan
dapat berimajinasi secara bebas tentang keindahan taman, bunga, gemerlapnya
bintang di langit, karang dan ombak, pelakuan-pelakuan binatang seperti
kelinci, kancil, gajah, kuda, burung dan sebagainya.
3.
Pekerjaan.
Biasanya akan menyangkut jenis
pekerjaan sehari-hari yang diperkirakan pantas dilakukan dan sesuai dengan
anak-anak; seperti memancing, menyapu, memelihara bunga, mencabit rumput,
mengasuh adik, menimang boneka dan sebagainya.
4.
Budi pekerti.
Tema-tema yang berkaitan dengan jiwa
kepahlawanan, rasa ashi terhadap sesama, kesetiakawanan sosial, cinta
lingkungan dan sebagainya. Strategi pembelajarannya dapat dengan memadukan
imitatif dan kreasif sehingga dapat memberi peluang kebebasan anak untuk
kreasi. Pada awalnya untuk memacu agar anak tidak kaku dalam latihan harus dibangun
keakraban dan keberaniannya. Setelah itu baru diberi pola-pola dasar menari
dengan memberikan contoh-contoh sikap, gerak, irama dan sebagainya. Penguasan
sikap dasar menari ini perlu dikuasai sebagai dasar dengan menirukan bentuk
gurunya. Selanjutnya anak diberi peluang, rangsangan agar muncul
keberanian dan kebebasannya untuk mengembangkan elemen dasar menari tersebut.
Pada kesempatan tertentu penting untuk diberi kesempatan tumbuhnya percaya diri
untuk mengembangkan dan memperkaya elemen-elemen dari koreografi tari tersebut,
seperti variasi sikap geraknya, ritme, tempo, serta pola lantai dalam
kelompoknya. Untuk lebih mengembangkan imajinasi anak, dapat diberikan materi
tari yang kreatif, sehingga anak dapat dengan leluasa sambil bermain untuk bergerak
spontan (improvisasi), eksplorasi yang selalu diarahkan oleh pendidik. Untuk
selanjutnya, akumulasi dari latihan yang sederhana dapat dibentuk kedalam satu
koreografi yang ditata sendiri oleh anak.
c. Musik Pengiring Tari
Sebuah tarian tidak akan lengkap
tanpa iringan musik.Musik memberikan jiwa , membentuk tema, karakter dan
suasana pada tari.Musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kesatuan
sebuah pertunjukan, sehingga si anak perlu mengenal, merasakan, menafsirkan
suasana musikal untuk menuju pada keselarasan. Dalam mengenalkan musik kepada
siswa, ada baiknya kita membawa contoh musik dari kaset atau CD, agar siswa
secara langsung dapat mendengarkannya. Misalnya diperdengarkan musik degung,
selama siswa mendengarkan degung, tutor dapat sambil menginformasikan berbagai
cerita dibalik musik degung, apabila perlu dengan membawa map atau peta
Indonesia. Dari sini kita dapat menjelaskan pemahaman daerah asal musik degung
dari sisi geografi, yaitu di Jawa Barat, ada kota Bandung yang mempunyai makanan
khas yaitu peuyeum, udaranya dingin, kesenian lain gaya sunda juga banyak, ada
topeng cirebon, sisingaan, jaipongan, bajidoran, ketuk tilu, wayang golek
sunda, tarling, dsb. Dari pengenalan salah satu musik saja dapat berkembang
menuju pengenalan budaya secara umum di masing-masing budaya.
d.
Pola Lantai
Pola lantai adalah gerak tari
untuk membentuk sebuah formasi.Pola lantai biasanya diterapkan dalam tarian
yang dilakukan oleh banyak orang karena akan lebih menarik apabila para
penarinya berpindah-pindah posisi.Mengenalkan pola lantai atau posisi dapat dilakukan dari
yang paling sederhana, seperti melingkar, garis lurus, bentuk V dan sebagainya.
Latihan dapat dilakukan dengan menyuruh anak dengan gerakan cepat membentuk
garis lurus tiga sap, berubah cepat ke posisi lingkaran, bergerak dengan sangat
pelan menuju garis lurus ke depan, dengan peralihan merangkak menuju kelompok
empat-empat, dan sebagainya. Latihan semacam ini dapat mempercapat kepekaan
anak terhadap rasa ruang, sehingga anak secara sadar mengerti posisi sendiri
atupun posisi dalam kelompok. Apabila nanti pada pergelaran garapan tarinya
menggunakan posisi-posisi yang sulitpun siswa tidak bingung dan cepat menangkap
perubahan serta irama peralihannya.
- Busana Tari
Busana yang dipakai seorang penari bermacam-macam. Busana
tari berfungsi untuk memperindah penampilan seorang penari. Busana yang dipakai
diusahakan tidak mengganggu gerak dan sikap penari pada saat pentas.
Penggunaan busana tari disesuaikan dengan isi atau tema
tari. Dalam menampilkan sebuah tari, busana telah disesuaikan dengan tema dan
tidak dapat diganti dengan busana lain.
- Aksesori Properti Tari
Aksesori dan properti tari adalah alat-alat yang digunakan
untuk menari.Aksesori dan properti tari biasanya terbuat dari bahan imitasi
seperti dari plastik, karet, kayu, karton, kuningan, yang semuanya menampilkan
kegemerlapan dan penuh hiasan.Aksesori seperti ikat kepala dan hiasan rambut
dipilih sesuai tema dan karakter tari agar tidak mengganggu gerakan pada saat
pentas.Demikian pula dengan propertinya.Properti bukan hanya perlengkapan
semata-semata, tetapi mencerminkan makna yang ingin disampaikan dalam tarian.Beberapa
properti seperti Keris,panah, dan tombak yang sering dipakai dalam
tarian-tarian yang bertemakan perang.
- Kepekaan Penyajian
Penyajian garapan merupakan suatu keutuhan dari keseluruhan
proses latihan yang telah dilakukan. Edialnya pementasan merupakan sebuah
totalitas ekspresi, sehingga untuk mempersiapkannya perlu latihan-latihan yang
matang. Pengulangan latihan merupakan bagian yang sangat penting untuk membina
siswa menuju pada kesiapan pentas, baik siap secara keterampilan fisik maupun
kesiapan mental.
Pada dasarnya dalam membuat susunan kelompok harus
memperhatikan bagaimana menata gerak dari banyak penari menjadi suatu jalinan
atau kerjasama antar penari sehingga membentuk suatu keutuhan kerjasama sebagai
perwujudan garapan. Ini dapat terwujud dengan mengembangkan atau menggarap
unsur gerak. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam koreografi kelompok adalah
hubungan antar penari akan menjadi sesuatu hal yang sangat penting.
Dalam garapan kelompok, masing-masing penari harus saling
kerjasama, saling memahami kemampuan gerak temannya, saling mengerti
karakteristik temannya, sehingga terbangun suatu kerjasama yang
utuh. Setiap penari mempunyai peran sendiri-sendiri secara harmonis, yang pada
akhirnya semua penari dapat memberi daya hidup wujud susunan tarinya.
Mengawali sebuah proses kerja kelompok, biasanya dimulai
dengan pemilihan tema garapan, ide gerak, alur dramatik, pemilihan gerak, ide
garap ruang dan sebagainya yang terkait dengan garapan kelompok. Semua penari
dalam garapan kelompok akan terlibat dalam aksi total atau tindakan yang
menyeluruh, sehingga memberikan keteraturan dan keutuhan terhadap bentuk tari.
Pedoman kasarnya, semakin banyak jumlah penari, penataan
gerak harus dibuat lebih sederhana. Walaupun hal ini tidak berarti bahwa setiap
tarian tunggal harus rumit dan setiap tarian kelompok harus sederhana. Sebuah
komposisi kelompok, bukanlah sekedar sebuah tarian tunggal yang dilakukan oleh
beberapa orang, dimana gerakan selalu dilakukan secara serempak. Dalam
koreografi kelompok garis-garis di desain antar panari dapat dibuat saling
menguatkan atau membentuk kontras, simetri, atau asimetri, tetapi tetap merupakan
satu kesatuan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Hasil Pelaksanaan Kegiatan Seni Tari Melalui Media Bermain
Berikut ini adalah laporan hasil pelaksanaan
kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka :
- Mengadakan sosialisasi mengenai Seni Tari Melalui Media Bermain
- Terbinanya kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan jayaloka.
- Memberikan beberapa perlengkapan dan peralatan sebagai faktor pendukung dalam kegiatan seni tari.
- Meningkatnya motivasi dari anak-anak setelah di ajarkan metode Seni Tari Melalui Media Bermain.
- Adanya tenaga pengajar yang ahli dalam kegiatan seni tari.
- Adanya penampilan seni tari Mbok Jamu di acara pembukaan perlombaan dalam rangka menyambut HUT RI yang ke 66 sekaligus penyambutan hari ramadhan.
3.2 Hambatan-Hambatan
Yang Di Temui
Hambatan-hambatan yang
ditemui selama melaksanakan kegiatan seni tari antara lain adalah sebagai
berikut :
- Minimnya tenaga pengajar yang ahli di bidang seni tari.
- Belum adanya perlengkapan ataupun peralatan yang memadai sebagai faktor pendukung dalam kegiatan seni tari.
- Belum adanya tempat khusus untuk kegiatan seni tari di Desa Giriyoso.
- Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sarana adan prasana mengenai seni tari.
3.3 Alternatif
Pemecahan Masalah
Dalam upaya
memberdayakan seni tari sebagai media pengembangan kreativitas, selain kesiapan
pendidik dan anak didik beberapa hal yang perlu diperhatian adalah, tersedianya
sarana penunjang, lingkungan yang mendukung, memberi kesempatan bebas,
keterbukaan, dan penghargaan. Apabila berbicara seni tari akan berhadapan
dengan dua substansi yaitu bentuk fisik dan non fisik. Bentuk fisik adalah yang
terlihat oleh indera kita seperti, geraknya, komposisi ruangnya, busananya,
rias busananya, dan sebagainya. Sedangkan bentuk non fisik adalah isi, spirit,
rasa, kesan yang muncul dari peristiwa seni. Keduanya merupakan sumber yang
tidak akan habis sebagai bahan pengembangan kreatifitas.
Namun
setelah melakukan observasi, Penulis mengetahui bahwa belum terbinanya kegiatan
seni tari didesa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka, Selain karena masih minimnya
tenaga pengajar, fasilitas, perlengkapan, dan tempat juga menjadi penghambat
untuk kegiatan tersebut.Padahal itu sangat penting sebagai media pengembangan
kreatifitas seni tari.Hal inilah yang membuat kurangnya minat seni tari
sehingga tidak terbinanya kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan
Jayaloka.
Untuk memecahkan permasalahan dalam laporan ini, penulis
menemukan alternatif-alternatif sebagai berikut:
1. Mencari
tenaga pengajar yang ahli di bidang seni tari.
2. Memberikan
beberapa perlengkapan dan peralatan tari sehingga menambah minat anak dalam
kegiatan seni tari.
3. Mencari
tempat khusus untuk kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1.
4. Mengusulkan
kepada pemerintah untuk mendirikan sanggar di Desa Giriyoso 1.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari analisis yang penulis lakukan
dapat disimpulkan bahwa anak-anak Giriyoso 1
kurang mendapatkan dorongan dari lingkungan sekitar. Hal tersebut
terjadi karena minimnya tenaga pendidik, dan belum tersedianya fasilitas
ataupun perlengkapan yang memadai sehingga anak-anak kurang berminat dan
kegiatan ini belum terlaksana dengan baik. Akan tetapi setelah diberikan
pengarahan dan solusi dengan melakukan Upaya Mengembangkan Seni Tari Melalui
Media Bermain Pada Anak-Anak Desa Giriyoso 1, tampak terjadi perubahan yang
signifikan sehingga kegiatan kegiatan seni tari ini bisa dikembangkan di Desa
Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka.
4.2 Saran
Diharapkan
semua anak-anak Giriyoso dapat meluangkan waktunya untuk mengikuti latihan menari
karena di Era
global yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan
individu-individu yang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, kreativitas
perlu ditumbuh kembangkan .
DAFTAR
PUSTAKA
Tim
KKN STKIP PGRI.2011. Pedoman Pelaksanaan
Kuliah Kerja Nyata STKIP
PGRI.
Lubuklinggau.
Setyaningsih,
Titik, 2008. Seni Budaya Untuk SMA/MA.
Solo: Kuala Pustaka.
Murtono,
Sri, 2007. Seni Budaya Dan Keterampilan.
Bogor: Yudhistira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar