Jumat, 20 Januari 2012

Laporan individu KKN Tentang Seni Tari


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) merupakan usaha kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa, mengingat permasalahan pembangunan sangat kompleks, maka pelaksanaannya perlu ditangani secara pragmatis dan interdisipliner untuk itu diperlukan adanya pendidikan yang dapat melatih mahasiswa sebagai calon sarjana agar dapat bekerja secara interdisipliner dan dapat menanggulangi permasalahan di lapangan secara pragmatis.
Didalam pelaksanaanya, KKN terdapat 3 ( tiga ) kegiatan yang dilakukan mahasiswa yaitu; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada masyarakat. Dalam kegiatan pendidikan, mahasiswa diperkenalkan secara langsung pada masyarakat dan segala permasalahannya. Dalam kegiatan mahasiswa penelitian mahasiswa diajak untuk menelaah dan merumuskan permasalahan-permasalahan yang kompleks, menelaah potensi-potensi, dan kelemahan-kelemahan dalam masyarakat serta merumuskannya. Dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat, mahasiswa mengamalkan ilmu pengetahuan teknologi, dan seni untuk menyelesaikan masalah dan menanggulanginya secara pragmatis.
Pada Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) angkatan XXII Tahun 2010/2011 terbagi atas 70% di bidang pendidikan dan 30% bidang sosial masyarakat. Permasalahan yang ada di dunia pendidikan dan masyarakat yang ditemui pada waktu pelaksanaan observasi yang disusun menjadi program kerja dan akan dilaksanakan selama kegiatan KKN berlangsung pada suatu posko. Setiap posko KKN memiliki rencana dan schedule termasuk juga posko 25. Diantara program-program yang ada salah satunya adalah dibidang seni tari yang secara interen dilaksanakan penulis sebagai salah seorang yang bertugas melaksanakan rencana kerja tersebut. Setelah penulis melakukan observasi pada Bidang Seni tari, Penulis menemukan bahwa belum terbinanya kegiatan seni tari didesa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musi Rawas, maka ditemukan satu permasalahan yang dianggap perlu untuk diberikan solusinya yaitu apa yang menyebabkan seni tari tidak dikembangkan di desa Giriyoso? Hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang pentingnya meningkatkan keterampilan dan melestarikan seni tari.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penulis melakukan penelitian  dengan judul : "Upaya Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Bermain Pada Anak-Anak Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka”.

1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah yang perlu diselesaikan,yaitu:
1.      Mengapa Seni Tari tidak dikembangkan di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka ?
2.      Bagaimana Upaya mengembangkan  Seni Tari Melalui Media Bermain pada Anak-Anak Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka?

1.3         Tujuan
Tujuan dari penulisan  laporan ini, antara lain;
a.         Untuk mengetahui mengapa seni Tari tidak dikembangkan di desa  Giriyoso 1.
b.        Untuk mengembangkan seni tari didesa Giriyoso 1 kecamatan Jayaloka.
1.4         Manfaat
a.       Anak- Anak dapat berpatisipasi dan lebih aktif dalam kegiatan seni tari melalui media bermain.
b.      Guru-Guru tari dapat mengaplikasikan teknik pengajaran seni tari melalui media bermain.
c.       Penulis mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman mengenai Upaya Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Bermain.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1     Seni Tari Sebagai  Media pengembangan Kreatifitas
Seni tari sebagai salah satu seni pertunjukan merupakan bentuk karya seni dengan bentuk media ungkap berupa gerak dan hasil dari ide atau gagasan, nilai-nilai, rasa irama, pesan dan berbagai aspek lainnya yang duwujudkan melalui pola-pola gerak tersusun.
Seni tari tergolong seni yang hilang dalam waktu, yaitu pertunjukan tari selesai disajikan maka selesai pula semua aktivitas dan yang tersisa adalah kesan dan pengalaman bagi pelaku dan penonton.
Era global yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan individu-individu yang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, kreativitas perlu ditumbuh kembangkan.Secara umum sudah banyak dipahami bahwa dalam rangka mengembangkan kreativitas, peran pendidik sangatlah penting. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kreativitas, baik dirumah maupun disekolah.



2.2         Upaya mengembangkan  Seni Tari Melalui Media Bermain pada Anak-Anak
a.       Media Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan kesenangan tanpa memperhitungkan hasil akhirnya.Bermain dilaksanakan secara sukarela tanpa adanya paksaan.
Jadi, melalui bermain dapat diperoleh kesenangan.Menurut Sutton dan Smith,bermain dapat digolongkan menjadi empat (empat) yakni meniru, menjelajah (eksplorasi), menguji atau eksperimen, dan membangun. Bermain dengan seni musik adalah kegiatan bermain yang dilakukan dengan bunyi atau lagu-lagu daerah seperti lagu “Cublak-cublak Suweng, Lagu Lancang Kuning, Lagu Kicir-Kicir, Mbok Jamu, Ampar-Ampar Pisang, dan Ayang-Ayang Gung merupakan lagu-lagu yang sering digunakan sebagai media bermain yang diiringi dengan gerakan-gerakan tarian.
b.    Konsep Dasar Seni Tari  Melalui Media Bermain
Seni akan mampu memberikan bantuannya dalam rangka pembentukan kepribadian anak didik. Pengalaman berolah seni dalam bentuk latihan, mencipta, berkreasi melalui latihan-latihan akan melibatkan kognitif, afektif serta psikomotorik. Ketiga aspek tersebut secara totalitas juga melibatkan semua aspek jiwa seperti kecerdasan, kemauan, kebiasaan berdisiplin dan lain-lainnya. Melalui kegiatan seni, secara tidak langsung akan membentuk diri anak menjadi insan yang seimbang jasmani rohaninya, Pendidikan seni dapat pula sebagai fasilitas anak untuk bereksperimen melakukan kegiatan kreatif dalam bentuk ekspresi visual, ekspresi kinetik atau ekspresi lainnya yang sesuai dengan medium pokoknya.
Kegiatan latihan menari akan dapat merangsang berbagai aktifitas tubuh, baik secara fisik, maupun non fisik. Secara fisik jelas bahwa aktifitas latihan tari yang dilakukan oleh setiap anak akan membentuk elastisitas tubuh menjadi semakin baik, sehingga semua gerak-gerik tubuh menjadi terbiasa. Kegiatan latihan fisik juga akan memacu sebuah refresing tubuh Dengan latihan menari, suasana segar, riang, bercengkrama akan didapatkan dan selanjutnya kejenuhan rutintas  tubuh akan hilang. Secara sederhana, tarian anak-anak adalah tarian yang sesuai dengan kodrati anak-anak, kebanyakan tarian anak-anak dari isi dan bentuknya adalah sebagai berikut
1. Permainan
Pada dasarnya, anak-anak seusia sekolah dasar masih sangat menyukai bermain atau permainan apapun bentuknya. Kebutuhan akan bermain yang begitu kuat ini  merupakan modal dasar yang dominan, apabila dapat digunakan sebagai media pembentukkan dalam proses belajar. Secara tidak sadar, dalam melakukan berbagai aktivitas permainan sebenarnya si anak akan menyerap berbagai penguatan untuk membentuk dirinya. Membentuk penguatan solidaritas, penguatan kreatif, kemandirian, keberanian, tantangan, bahkan mengembangkan daya cipta, dari permainan yang ada anak juga dapat berkreativitas untuk menciptakan permainan yang baru yang dianggap lebih menarik.
Secara psikologi, anak yang tebal pengalamannya dalam berbagai permainan, kejiwaanya akan lebih mudah dibentuk atau terbentuk menuju pada jati dirinya. Karena permainan merupakan bagian yang paling digemari, maka sesuatu pembelajaran yang dimasukkan melalui pola-pola permainan juga mudah
2. Alam dan Binatang.
Tema-tema alam dan binatang biasanya sangat dekat dan disukai anak-anak. Dengan pilihan tema-tema tersebut anak akan dapat berimajinasi secara bebas tentang keindahan taman, bunga, gemerlapnya bintang di langit, karang dan ombak, pelakuan-pelakuan binatang seperti kelinci, kancil, gajah, kuda, burung dan sebagainya.
3. Pekerjaan.
Biasanya akan menyangkut jenis pekerjaan sehari-hari yang diperkirakan pantas dilakukan dan sesuai dengan anak-anak; seperti memancing, menyapu, memelihara bunga, mencabit rumput, mengasuh adik, menimang boneka dan sebagainya.
4. Budi pekerti.
Tema-tema yang berkaitan dengan jiwa kepahlawanan, rasa ashi terhadap sesama, kesetiakawanan sosial, cinta lingkungan dan sebagainya. Strategi pembelajarannya dapat dengan memadukan imitatif dan kreasif sehingga dapat memberi peluang kebebasan anak untuk kreasi. Pada awalnya untuk memacu agar anak tidak kaku dalam latihan harus dibangun keakraban dan keberaniannya. Setelah itu baru diberi pola-pola dasar menari dengan memberikan contoh-contoh sikap, gerak, irama dan sebagainya. Penguasan sikap dasar menari ini perlu dikuasai sebagai dasar dengan menirukan bentuk gurunya. Selanjutnya anak diberi peluang, rangsangan  agar muncul keberanian dan kebebasannya untuk mengembangkan elemen dasar menari tersebut. Pada kesempatan tertentu penting untuk diberi kesempatan tumbuhnya percaya diri untuk mengembangkan dan memperkaya elemen-elemen dari koreografi tari tersebut, seperti variasi sikap geraknya, ritme, tempo, serta pola lantai dalam kelompoknya. Untuk lebih mengembangkan imajinasi anak, dapat diberikan materi tari yang kreatif, sehingga anak dapat dengan leluasa sambil bermain untuk bergerak spontan (improvisasi), eksplorasi yang selalu diarahkan oleh pendidik. Untuk selanjutnya, akumulasi dari latihan yang sederhana dapat dibentuk kedalam satu koreografi yang ditata sendiri oleh anak.
c.       Musik Pengiring Tari
Sebuah tarian tidak akan lengkap tanpa iringan musik.Musik memberikan jiwa , membentuk tema, karakter dan suasana pada tari.Musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kesatuan sebuah pertunjukan, sehingga si anak perlu mengenal, merasakan, menafsirkan suasana musikal untuk menuju pada keselarasan. Dalam mengenalkan musik kepada siswa, ada baiknya kita membawa contoh musik dari kaset atau CD, agar siswa secara langsung dapat mendengarkannya. Misalnya diperdengarkan musik degung, selama siswa mendengarkan degung, tutor dapat sambil menginformasikan berbagai cerita dibalik musik degung, apabila perlu dengan membawa map atau peta Indonesia. Dari sini kita dapat menjelaskan pemahaman daerah asal musik degung dari sisi geografi, yaitu di Jawa Barat, ada kota Bandung yang mempunyai makanan khas yaitu peuyeum, udaranya dingin, kesenian lain gaya sunda juga banyak, ada topeng cirebon, sisingaan, jaipongan, bajidoran, ketuk tilu, wayang golek sunda, tarling, dsb. Dari pengenalan salah satu musik saja dapat berkembang menuju pengenalan budaya secara umum di masing-masing  budaya.
d.    Pola Lantai
Pola lantai adalah gerak tari untuk membentuk sebuah formasi.Pola lantai biasanya diterapkan dalam tarian yang dilakukan oleh banyak orang karena akan lebih menarik apabila para penarinya berpindah-pindah posisi.Mengenalkan pola lantai atau posisi dapat dilakukan dari yang paling sederhana, seperti melingkar, garis lurus, bentuk V dan sebagainya. Latihan dapat dilakukan dengan menyuruh anak dengan gerakan cepat membentuk garis lurus tiga sap, berubah cepat ke posisi lingkaran, bergerak dengan sangat pelan menuju garis lurus ke depan, dengan peralihan merangkak menuju kelompok empat-empat, dan sebagainya. Latihan semacam ini dapat mempercapat kepekaan anak terhadap rasa ruang, sehingga anak secara sadar mengerti posisi sendiri atupun posisi dalam kelompok. Apabila nanti pada pergelaran garapan tarinya menggunakan posisi-posisi yang sulitpun siswa tidak bingung dan cepat menangkap perubahan serta irama peralihannya.
  1. Busana Tari
Busana yang dipakai seorang penari bermacam-macam. Busana tari berfungsi untuk memperindah penampilan seorang penari. Busana yang dipakai diusahakan tidak mengganggu gerak dan sikap penari pada saat pentas.
Penggunaan busana tari disesuaikan dengan isi atau tema tari. Dalam menampilkan sebuah tari, busana telah disesuaikan dengan tema dan tidak dapat diganti dengan busana lain.
  1. Aksesori Properti Tari
Aksesori dan properti tari adalah alat-alat yang digunakan untuk menari.Aksesori dan properti tari biasanya terbuat dari bahan imitasi seperti dari plastik, karet, kayu, karton, kuningan, yang semuanya menampilkan kegemerlapan dan penuh hiasan.Aksesori seperti ikat kepala dan hiasan rambut dipilih sesuai tema dan karakter tari agar tidak mengganggu gerakan pada saat pentas.Demikian pula dengan propertinya.Properti bukan hanya perlengkapan semata-semata, tetapi mencerminkan makna yang ingin disampaikan dalam tarian.Beberapa properti seperti Keris,panah, dan tombak yang sering dipakai dalam tarian-tarian yang bertemakan perang.
  1. Kepekaan  Penyajian
Penyajian garapan merupakan suatu keutuhan dari keseluruhan proses latihan yang telah dilakukan. Edialnya pementasan merupakan sebuah totalitas ekspresi, sehingga untuk mempersiapkannya perlu latihan-latihan yang matang. Pengulangan latihan merupakan bagian yang sangat penting untuk membina siswa menuju pada kesiapan pentas, baik siap secara keterampilan fisik maupun kesiapan mental.
Pada dasarnya dalam membuat susunan kelompok harus memperhatikan bagaimana menata gerak dari banyak penari menjadi suatu jalinan atau kerjasama antar penari sehingga membentuk suatu keutuhan kerjasama sebagai perwujudan garapan. Ini dapat terwujud dengan mengembangkan atau menggarap unsur gerak. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam koreografi kelompok adalah hubungan antar penari akan menjadi sesuatu hal yang sangat penting.
Dalam garapan kelompok, masing-masing penari harus saling kerjasama, saling memahami kemampuan gerak temannya, saling mengerti karakteristik temannya,  sehingga terbangun suatu  kerjasama yang utuh. Setiap penari mempunyai peran sendiri-sendiri secara harmonis, yang pada akhirnya semua penari dapat memberi daya hidup wujud susunan tarinya.
Mengawali sebuah proses kerja kelompok, biasanya dimulai dengan pemilihan tema garapan, ide gerak, alur dramatik, pemilihan gerak, ide garap ruang dan sebagainya yang terkait dengan garapan kelompok. Semua penari dalam garapan kelompok akan terlibat dalam aksi total  atau tindakan yang menyeluruh, sehingga memberikan keteraturan dan keutuhan terhadap bentuk tari.
Pedoman kasarnya, semakin banyak jumlah penari, penataan gerak harus dibuat lebih sederhana. Walaupun hal ini tidak berarti bahwa setiap tarian tunggal harus rumit dan setiap tarian kelompok harus sederhana. Sebuah komposisi kelompok, bukanlah sekedar sebuah tarian tunggal yang dilakukan oleh beberapa orang, dimana gerakan selalu dilakukan secara serempak. Dalam koreografi kelompok garis-garis di desain antar panari dapat dibuat saling menguatkan atau membentuk kontras, simetri, atau asimetri, tetapi tetap merupakan satu kesatuan.












BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pelaksanaan Kegiatan Seni Tari Melalui Media Bermain
Berikut ini adalah laporan hasil pelaksanaan kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka :
  1. Mengadakan sosialisasi mengenai Seni Tari Melalui Media Bermain
  2. Terbinanya kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan jayaloka.
  3. Memberikan beberapa perlengkapan dan peralatan sebagai faktor pendukung dalam kegiatan seni tari.
  4. Meningkatnya motivasi dari anak-anak setelah di ajarkan metode Seni Tari Melalui Media Bermain.
  5. Adanya tenaga pengajar yang ahli dalam kegiatan seni tari.
  6. Adanya penampilan seni tari Mbok Jamu di acara pembukaan perlombaan dalam rangka menyambut HUT RI yang ke 66 sekaligus penyambutan hari ramadhan.




3.2 Hambatan-Hambatan Yang Di Temui
Hambatan-hambatan yang ditemui selama melaksanakan kegiatan seni tari antara lain adalah sebagai berikut :
  1. Minimnya tenaga pengajar yang ahli di bidang seni tari.
  2. Belum adanya perlengkapan ataupun peralatan yang memadai sebagai faktor pendukung dalam kegiatan seni tari.
  3. Belum adanya tempat khusus untuk kegiatan seni tari di Desa Giriyoso.
  4. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sarana adan prasana mengenai seni tari.
3.3 Alternatif Pemecahan Masalah
Dalam upaya memberdayakan seni tari sebagai media pengembangan kreativitas, selain kesiapan pendidik dan anak didik beberapa hal yang perlu diperhatian adalah, tersedianya sarana penunjang, lingkungan yang mendukung, memberi kesempatan bebas, keterbukaan, dan penghargaan. Apabila berbicara seni tari akan berhadapan dengan dua substansi yaitu bentuk fisik dan non fisik. Bentuk fisik adalah yang terlihat oleh indera kita seperti, geraknya, komposisi ruangnya, busananya, rias busananya, dan sebagainya. Sedangkan bentuk non fisik adalah isi, spirit, rasa, kesan yang muncul dari peristiwa seni. Keduanya merupakan sumber yang tidak akan habis sebagai bahan pengembangan kreatifitas.
Namun setelah melakukan observasi, Penulis mengetahui bahwa belum terbinanya kegiatan seni tari didesa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka, Selain karena masih minimnya tenaga pengajar, fasilitas, perlengkapan, dan tempat juga menjadi penghambat untuk kegiatan tersebut.Padahal itu sangat penting sebagai media pengembangan kreatifitas seni tari.Hal inilah yang membuat kurangnya minat seni tari sehingga tidak terbinanya kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka.
Untuk memecahkan permasalahan dalam laporan ini, penulis menemukan  alternatif-alternatif sebagai berikut:
1.      Mencari tenaga pengajar yang ahli di bidang seni tari.
2.      Memberikan beberapa perlengkapan dan peralatan tari sehingga menambah minat anak dalam kegiatan seni tari.
3.      Mencari tempat khusus untuk kegiatan seni tari di Desa Giriyoso 1.
4.      Mengusulkan kepada pemerintah untuk mendirikan sanggar di Desa Giriyoso 1.








BAB IV
PENUTUP

4.1       Kesimpulan
            Dari analisis yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa anak-anak Giriyoso 1  kurang mendapatkan dorongan dari lingkungan sekitar. Hal tersebut terjadi karena minimnya tenaga pendidik, dan belum tersedianya fasilitas ataupun perlengkapan yang memadai sehingga anak-anak kurang berminat dan kegiatan ini belum terlaksana dengan baik. Akan tetapi setelah diberikan pengarahan dan solusi dengan melakukan Upaya Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Bermain Pada Anak-Anak Desa Giriyoso 1, tampak terjadi perubahan yang signifikan sehingga kegiatan kegiatan seni tari ini bisa dikembangkan di Desa Giriyoso 1 Kecamatan Jayaloka.

4.2       Saran
            Diharapkan semua anak-anak Giriyoso dapat meluangkan waktunya untuk mengikuti latihan menari karena di Era global yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan individu-individu yang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, kreativitas perlu ditumbuh kembangkan .



DAFTAR PUSTAKA

Tim KKN STKIP PGRI.2011. Pedoman Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata STKIP
             PGRI. Lubuklinggau.
Setyaningsih, Titik, 2008. Seni Budaya Untuk SMA/MA. Solo: Kuala Pustaka.
Murtono, Sri, 2007. Seni Budaya Dan Keterampilan. Bogor: Yudhistira.